
POTRETBANDUNG.ID — Selama bertahun-tahun Agus “Bebeng” Hadiyana akrab dengan kamera dan hiruk-pikuk peristiwa. Namanya tercatat sebagai fotografer kantor berita yang banyak mengabadikan berbagai peristiwa di Bandung dan Jawa Barat. Kini, aktivitasnya berubah. Bukan lagi memburu momen dengan kamera, Agus justru sibuk merawat ayam dan memanen telur dari sebuah kamar berukuran sekitar 4×5 meter di Kota Bandung.

Di dalam ruangan yang sebelumnya biasa disewakan sebagai kamar kos itu, sekitar 22 ekor ayam kampung petelur kini bergerak bebas. Tidak ada kandang-kandang besi yang memenuhi ruangan. Agus menyebut tempat itu bukan kandang, melainkan “kamar ayam”. Konsep tersebut menjadi caranya menyiasati keterbatasan lahan di tengah padatnya lingkungan perkotaan.

Bagi Agus, memelihara ayam bukan semata-mata kegiatan beternak untuk mengejar keuntungan. Ia menyebutnya sebagai hobi yang sekaligus menjadi upaya sederhana membangun ketahanan pangan keluarga. Dari 22 ekor ayam, ia rata-rata mendapatkan sekitar 18 butir telur setiap hari. Ketika cuaca Bandung sedang dingin, produksinya bisa turun menjadi sekitar 10 butir.

Telur-telur tersebut terutama digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jika hasilnya berlebih, Agus menjualnya kepada tetangga dan teman. Dengan cara itu, sebuah kamar yang sebelumnya menghasilkan pemasukan dari sewa kos kini menghasilkan sumber pangan yang bisa langsung dinikmati keluarga.

(POTRETBANDUNG.ID/YOGI ARDHI) (Xiaomi 14T)
Menariknya, puluhan ayam tersebut dipelihara tanpa membuat kamar berbau menyengat seperti bayangan umum tentang kandang ayam. Agus mengaku mempelajari pengelolaan ruang dan kotoran ayam selama lebih dari setahun. Ia menggunakan sekam, pasir sungai, kapur dolomit, serta kotoran kambing dan sapi sebagai bagian dari material alas.

(POTRETBANDUNG.ID/YOGI ARDHI) (Xiaomi 14T)
Bukan hanya urusan kandang yang dipikirkan. Untuk menekan biaya pakan, Agus memanfaatkan berbagai bahan sisa yang masih dapat diolah, seperti nasi dan sayuran. Media lain juga melaporkan penggunaan limbah organik, maggot dan keong sawah sebagai bagian dari pakan alternatif. Ia juga mengembangkan pakan fermentasi serta ramuan berbahan rempah untuk membantu menjaga kondisi ayam.

Ada semacam perubahan cara pandang dalam aktivitas Agus sekarang. Jika dahulu kamera menjadi alat untuk merekam kehidupan orang lain, kini ayam-ayam di kamar itu menjadi bagian dari upayanya mengelola kehidupan sehari-hari secara lebih mandiri. Ia tidak mengejar jumlah ayam sebanyak-banyaknya. Menurutnya, ruang yang tersedia sebenarnya memungkinkan jumlah ayam ditambah, tetapi kesejahteraan dan ruang gerak ayam tetap harus diperhatikan.

Agus bahkan menggambarkan ayam-ayamnya sebagai ayam yang “bahagia dan merdeka”. Ungkapan itu terlihat dari cara ia membiarkan unggas tersebut bergerak, mengais dan menggaruk alas kamar tanpa sekat-sekat sempit. Baginya, menghasilkan telur tidak harus dilakukan dengan mengabaikan kenyamanan hewan.

Di tengah kota yang lahannya semakin terbatas, “kamar ayam” Agus menjadi gambaran lain tentang urban farming. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan luas atau peternakan besar. Sebuah ruang 4×5 meter pun bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, selama dikelola dengan pengetahuan, ketekunan dan kemauan untuk bereksperimen.
Dari seorang fotografer yang dahulu terbiasa mencari cerita melalui lensa kamera, Agus kini menemukan cerita lain di balik pintu sebuah kamar. Setiap pagi, bukan hanya cahaya dan momen yang ia tunggu, tetapi juga telur-telur baru yang dihasilkan ayam-ayam peliharaannya—sebuah bentuk sederhana ketahanan pangan yang tumbuh di tengah Kota Bandung
