
POTRETBANDUNG.ID — Kereta Api (KA) Sangkuriang menjadi salah satu layanan kereta jarak jauh yang banyak diminati masyarakat. Kereta yang menghubungkan Bandung dengan Ketapang, Banyuwangi, ini mencatat tingkat okupansi rata-rata 240,53 persen selama Juli–September 2026. Pada akhir pekan dan masa liburan, angkanya bahkan mencapai 284 persen.
Tingginya okupansi tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi kereta api untuk bepergian antarkota. Meski belum genap setahun beroperasi, KA Sangkuriang sudah mencatat tingkat keterisian yang menonjol di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung.

Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (Persero), Anne Purba, mengungkapkan capaian tersebut dalam pertemuan dengan media massa di Bandung, Rabu (14/10/2026).
“Yang paling sangat luar biasa adalah KA Sangkuriang. KA Sangkuriang ini average okupansinya 240,53 persen, bahkan pada weekend dan liburan bisa mencapai 284 persen,” ujar Anne, seperti dikutip BriliaNews.
Pelanggan Kereta Api Terus Bertambah
Tingginya minat terhadap KA Sangkuriang sejalan dengan meningkatnya jumlah pengguna kereta api di wilayah Daop 2 Bandung. Selama Januari–September 2026, jumlah pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal mencapai sekitar 8,2 juta orang. Angka ini tumbuh 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Anne mengatakan, jumlah tersebut memperlihatkan besarnya peran kereta api dalam menunjang mobilitas masyarakat di wilayah Bandung dan sekitarnya.

“Lebih dari 8 juta orang menggunakan kereta api di wilayah Daop 2,” kata Anne, sebagaimana diberitakan BriliaNews.
Secara nasional, KAI Group juga mencatat pertumbuhan jumlah pelanggan. Sepanjang Januari–September 2026, total pelanggan mencapai 394,44 juta orang, naik 7,06 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Konektivitas Memudahkan Perjalanan
Selain ketersediaan layanan, kemudahan berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya ikut mendukung mobilitas masyarakat. Integrasi bus, kereta lokal, dan kereta jarak jauh memberikan lebih banyak pilihan bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan.
Konektivitas ini juga penting bagi wisatawan yang ingin menjelajahi berbagai daerah tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi. Bandung, misalnya, tidak hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga titik keberangkatan menuju sejumlah kota lain di Pulau Jawa.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, KAI terus melakukan pengembangan fasilitas stasiun. Salah satu yang menjadi perhatian pada 2026 adalah Stasiun Tasikmalaya, terutama dalam hal integrasi antarmoda, penataan arus penumpang, dan pengembangan kawasan berbasis transit oriented development (TOD).
Okupansi Tinggi Perlu Dipahami secara Tepat
Angka okupansi KA Sangkuriang yang mencapai 284 persen sekilas mungkin terkesan menunjukkan jumlah penumpang jauh melebihi kapasitas kereta. Namun, angka tersebut perlu dilihat berdasarkan cara penghitungan okupansi pada perjalanan dengan banyak stasiun pemberhentian.
Dalam perjalanan jarak jauh, kursi yang sama dapat digunakan penumpang berbeda pada segmen rute yang berbeda. Karena itu, angka okupansi kumulatif di atas 100 persen tidak otomatis berarti jumlah penumpang yang berada di dalam kereta pada saat bersamaan melebihi kapasitas tempat duduk.

Tingginya minat terhadap KA Sangkuriang menjadi gambaran bahwa kereta api masih memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai daerah. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan jumlah pelanggan berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan, kemudahan akses, dan keselamatan perjalanan.
